Pengait kata (tags) tulisan ‘ quick

30
Nov
11

Serupa tapi Tak Sama ….

meski sama sama eropa , S1000RR mengincar pasar superbike jepang

Menurut bocoran yang didapat , market Share superbike jepang secara global mengalami penurunan cukup signifikan. Dengan Yamaha R1 yang paling terpukul yaitu sebesar 28% sementara pabrikan lain bervariasi antara 10-24%. sementara dua pabrikan eropa yaitu Ducati dan Aprilia justru relatif stagnan.

meski secara volume tidak ada penurunan yang signifikan dari penjualan superbike secara global, tetapi  khususnya pada pabrikan jepang mereka memang mengalami penurunan di tahun 2010. pasalnya hal ini dipengaruhi oleh kehadiran pemain baru asal eropa yang justru masuk ke segmen motor jepang.

Konsumen Superbike jepang cenderung “pragmatis” dan inilah yang dilakukan BMW S1000RR

pengalaman mbah sendiri plus data yang didapat justru menunjukan bahwa konsumen superbike jepang ( R1, Fireblade, ZX10 dan Gixxer ) cenderung lebih pragmatis dibanding konsumen 1198 dan RSV4. Konsumen Ducati dan Aprilia lebih fanatik. Disitulah celah dan yang dimanfaatkan BMW dengan maksimal. Mereka membuat S1000RR masuk ke “wilayah teritorial” superbike jepang. mulai dari tipe mesin yang sama (Inline) hingga bandrol motor yang serupa.

pengguna Superbike jepang, tidak ragu berganti brand, dari Honda ke Suzuki lalu ke kawasaki. Sementara konsumen Ducati, Aprilia dan Mv Agusta cenderung lebih loyal. S1000RR kendati buatan jerman, namun konsep dan strateginya justru sama persis dengan pabrikan jepang.

29
Nov
11

Pencerdasan Otomotif – Enggak sekedar bersikap Kritis dan Sinis Brooo

Pencerdasan otomotif bisa dimulai dengan “memahami” persoalan secara objektif, realistis dan flexibel

sering kali kita mendengah tulisan : “stop pembodohan otomotif” atau “pencerdasan otomotif”. Yup dua kalimat tersebut jelas memiliki tujuan positif. Tetapi dari mana hal tersebut bisa dimulai ? sebenarnya cukup sederhana, kita bisa memulai usaha untuk menghentikan “pembodohan otomotif” dengan memulai “pencerdasan otomotif”, Caranya ? mulailah dengan diri sendiri salah satunya dengan “memahami persoalan yang berkaitan dengan otomotif” secara objektif, realistis dan flesibel. Kamsud ?

  • Objektif : yaitu melihat persoalaan dari berbagai sudut pandang yang berkaitan. Baik dari segi konsumen, produsen, masyarakat maupun dari sudut pandang pihak ke tiga
  • Realisits & Rasional : melihat “persoalan otomotif” secara realistis dimana terdapat kepentingan ekonomi dan aspek psikologis dari setiap persoalan otomotif
  • Flexibel : pakem sudut pandang dan pola pikir pun harus bisa dirubah sesuai kondisi, persoalan dan lokasinya. kita tidak bisa menyamakan semua persoalan hanya berdasarkan satu pola pakem pemikiran.

silahkan lihat film blockbuster korea yang dibintangi lee min-ki. Sepanjang film aktor utamanya ga pake helm, ngebut dan “lebay” diatas S1000RR nya. Apakah ini pembodohan otomitif ? kalo anda pake sudut pandang kaku, jelas iya. Tapi jika dilihat dari kacamata realistis, ada 3 faktor dimana “unsur pembodohan otomotif  akan hilang dengan sendirinya” . Pertama , ini film bergenre – Action Comendy, jadi wajar banyak guyonan dan hal yang “lebay”, Kedua, target utama audience nya pun sebenarnya adalah untuk Korea Selatan (bukan indonesia), dimana mereka sudah sangat well educated mengengai keselamatan berkendara. Ketiga, produser film pun telah memberi keterangan di awal dan akhir film mengenai keselamatan berkendara … nah ! Jadi tidak serta merta film ini melakukan pembodohan otomotif …

Pencerdasan Otomotif, bukan berarti jadi “Naif” , “Berlebihan” dan Irasional … tetap harus manusiawi

demi mengibarkan unsur “pencerdasan otomotif” baik blogger maupun biker pun tidak perlu menjadi “Naif” , “berlebihan” dan tidak realistis. Maksudnya kita ga perlu berlagak sebagai manusia yang paling disiplin, paling kritis dalam menyikapi setiap topik otomotif. Bahkan kadang “atas nama pencerdasan otomotif” jangan sampai kita bertindak tidak realistis dan irasional. Semisal menilai produk hanya dari faktor value for money dan mengesampingkan faktor selera, atau menganggap produsen itu tidak boleh mendapatkan profit sama sekali, hingga menuduh produsen film dianggap melakukan pembodohan otomotif hanya karena tidak memakai helm (aturan helm berbeda beda di tiap negara) bisa disimak di sini dan sini. Jika kita bertindak sedemikian rupa, boleh lah kita dicap sebagai orang yang masih “gagap pecerdasan otomotif” atau mereka yang ngebet ingin disebut “pahlawan pencerdasan otomotif” dengan berpikir irasional.

pencerdasan otomotif harus dilakukan secara realists dan rasional, kita tidak bisa mengabaikan faktor “manusiawi” , seperti selera konsumen terhadap tipe motor, figur, kepentingan ekonomis produsen dan konsumen, ataupun faktor dimana sisi “Ego” manusia yang pegang peranan. Manusia yang cerdas secara otomotif bukanlah komputer yang cerdas, atau smart phone. dimana tindakan dan pilihan hanya berdasarkan probabilitas terbaik,  konsumen yang cerdas adalah yang memilih berdasarkan kebutuhan dan kepuasan batin ,  bukan mereka yang tersandera hitung hitungan semata.  kalo sudah begitu kita akan membuat rancu, mana pencerdasan otomotif mana yang cenderung irasional … Monggo dikunyah! :D




Jarak Tempuh

  • 11,440,237 Km

Arsip

INDOBIKERS, Indonesian Bikers Community


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 317 pengikut lainnya.