di antasari – prapanca, kendaraan dari arah Panglima polim – senopati mendapat lampu hijau bersamaan
Sebagai Biker kita harus 2 langkah di depan !
nah terkait dengan artikel ini klik, terus terang mbah sendiri bukan menutup mata mengenai kecelakaan yang diakibatkan biker indisipliner , karena harus diakui bahwa memang banyak biker yang tidak disiplin! Tetapi mbah memahami betul bahwa ada agenda lain dibalik makin seringnya media dan kelompok masyarakat yang kerap menyuarakan biker = indisipliner = kecelakaan. teori konspirasi mbah ? bukan ! Tapi memang begitu adanya !
dua langkah didepan? Kamsud? gini seperti juga membawa motor di sirkuit, anda tidak boleh hanya melihat track lurus didepan anda, tetapi anda sudah harus memikirkan tikungan di depan. Dan ini berlaku di sirkuit manapun dan kapanpun juga. Begitu juga indoktrinasi mengenai “kelalaian dan indisipliner” sebagai sumber utama kecelakaan … ada hal lain dibalik ini
di beberapa tempat kendaraan boleh “berhenti” diantara dua jalur …
Kenapa terjadi indisipliner ? ini bukan cuma pengaruh pribadi ! Tapi lingkungan !
ada biker yang memang secara genetik
dan dasarnya indisipliner, dan ini wajar disebut oknum biker. Tetapi banyak kasus tindakan indisipliner dikarenakan faktor lingkungan yang berakibat – karena keterpaksaan kondisi menjadi hal lumrah oleh biker itu sendiri. Apa aja tuh mbah ?
macet extrim karena pengalihan arus … ini terjadi dimana mana …
- Infrastruktur : jalanan berlubang, kurangnya marka jalan seperti ketiadaan garis putih yang hampir di semua tempat membuat mayoritas biker “terbiasa” berhenti seadanya di lampu merah. Kenapa ? karena di dalam alam bawah sadar, dengan terjadinya repetisi berulang kali bahwa “garis putih” tidak pernah ada, secara reflex biker akan mengabaikan garis tersebut terutama garis putih itu benar benar ada
- Diskresi : ambil contoh jalur busway yang kerap digunakan oleh kendaraan pejabat – aparat pemerintah, atau situasi dimana aparat menyuruh pengendara maju ke tengah persimpangan demi memecah kemacetan atau karena adanya pembangunan jalan hingga memang lajur yang digunakan tidak layak. Kondisi “diskresi” ini kerap membingungkan biker yah sering kali harus mengambil keputusan secara cepat.
- Keterpaksaan : berhenti di lampu merah, wajib hukumnya. Tetapi jika anda berhenti di persimpangan bay pass rawamangun atau senen di tengah malam terus terang anda beresiko untuk menjadi target perampokan. Dan kisah ini pernah dialami oleh pengendara scorpio kata eyang edo
… situasi dilematis ini pun kerap terjadi di berbagai tempat. Behenti di perempatan dengan lajur (belok kiri – tidak langsung) pun kita beresiko di seruduk bus yang selalu mengabaikan aturan tersebut. Kondisi ini juga turut menyumbang tindakan indisipliner bikers!
- Budaya : Motor = wong cilik = salah benar tetap motor yang benar! hal ini karena kerap masyarakat dan kondisi ekonomi indonesia yang tidak merata plus budaya ini tercipta karena adanya kebiasaan oleh seringnya masyarakat menghadapi diskresi akibat minimnya infrastruktur dan keterpaksaan!
makanya mbah rasa, tidak fair dan tidak adil jika kerap masyarakat khususnya bikers dikaitkan dengan sikap kelalaian dan indisipliner. Semua ada sebab ada akibat. Tetapi ada juga penyebab yang tidak mau kena akibat. Makanya mereka kerap menuding si “akibat” dan kita masyarakat menjadi terhipnotis dengan melupakan si” Sebab!”














KOMENTAR