
Pencerdasan otomotif bisa dimulai dengan “memahami” persoalan secara objektif, realistis dan flexibel
sering kali kita mendengah tulisan : “stop pembodohan otomotif” atau “pencerdasan otomotif”. Yup dua kalimat tersebut jelas memiliki tujuan positif. Tetapi dari mana hal tersebut bisa dimulai ? sebenarnya cukup sederhana, kita bisa memulai usaha untuk menghentikan “pembodohan otomotif” dengan memulai “pencerdasan otomotif”, Caranya ? mulailah dengan diri sendiri salah satunya dengan “memahami persoalan yang berkaitan dengan otomotif” secara objektif, realistis dan flesibel. Kamsud ?
- Objektif : yaitu melihat persoalaan dari berbagai sudut pandang yang berkaitan. Baik dari segi konsumen, produsen, masyarakat maupun dari sudut pandang pihak ke tiga
- Realisits & Rasional : melihat “persoalan otomotif” secara realistis dimana terdapat kepentingan ekonomi dan aspek psikologis dari setiap persoalan otomotif
- Flexibel : pakem sudut pandang dan pola pikir pun harus bisa dirubah sesuai kondisi, persoalan dan lokasinya. kita tidak bisa menyamakan semua persoalan hanya berdasarkan satu pola pakem pemikiran.
silahkan lihat film blockbuster korea yang dibintangi lee min-ki. Sepanjang film aktor utamanya ga pake helm, ngebut dan “lebay” diatas S1000RR nya. Apakah ini pembodohan otomitif ? kalo anda pake sudut pandang kaku, jelas iya. Tapi jika dilihat dari kacamata realistis, ada 3 faktor dimana “unsur pembodohan otomotif akan hilang dengan sendirinya” . Pertama , ini film bergenre – Action Comendy, jadi wajar banyak guyonan dan hal yang “lebay”, Kedua, target utama audience nya pun sebenarnya adalah untuk Korea Selatan (bukan indonesia), dimana mereka sudah sangat well educated mengengai keselamatan berkendara. Ketiga, produser film pun telah memberi keterangan di awal dan akhir film mengenai keselamatan berkendara … nah ! Jadi tidak serta merta film ini melakukan pembodohan otomotif …

Pencerdasan Otomotif, bukan berarti jadi “Naif” , “Berlebihan” dan Irasional … tetap harus manusiawi
demi mengibarkan unsur “pencerdasan otomotif” baik blogger maupun biker pun tidak perlu menjadi “Naif” , “berlebihan” dan tidak realistis. Maksudnya kita ga perlu berlagak sebagai manusia yang paling disiplin, paling kritis dalam menyikapi setiap topik otomotif. Bahkan kadang “atas nama pencerdasan otomotif” jangan sampai kita bertindak tidak realistis dan irasional. Semisal menilai produk hanya dari faktor value for money dan mengesampingkan faktor selera, atau menganggap produsen itu tidak boleh mendapatkan profit sama sekali, hingga menuduh produsen film dianggap melakukan pembodohan otomotif hanya karena tidak memakai helm (aturan helm berbeda beda di tiap negara) bisa disimak di sini dan sini. Jika kita bertindak sedemikian rupa, boleh lah kita dicap sebagai orang yang masih “gagap pecerdasan otomotif” atau mereka yang ngebet ingin disebut “pahlawan pencerdasan otomotif” dengan berpikir irasional.
pencerdasan otomotif harus dilakukan secara realists dan rasional, kita tidak bisa mengabaikan faktor “manusiawi” , seperti selera konsumen terhadap tipe motor, figur, kepentingan ekonomis produsen dan konsumen, ataupun faktor dimana sisi “Ego” manusia yang pegang peranan. Manusia yang cerdas secara otomotif bukanlah komputer yang cerdas, atau smart phone. dimana tindakan dan pilihan hanya berdasarkan probabilitas terbaik, konsumen yang cerdas adalah yang memilih berdasarkan kebutuhan dan kepuasan batin , bukan mereka yang tersandera hitung hitungan semata. kalo sudah begitu kita akan membuat rancu, mana pencerdasan otomotif mana yang cenderung irasional … Monggo dikunyah!
KOMENTAR